KUMPULAN PUISI ISLAMI


Puisi Ramadhan


Ya Allah Kau datangkan lagi Ramadhan buatku
Ketika aku masih saja tak mampu mensyukuri
RamadhanMU yang telah berlalu

Hari hari Mu masih saja kulalui
Tanpa isi
Tanpa makna
Tanpa syukur

Bahkan dengan sikap Takabur 
Terkadang kami masih saja lupa
Bahwa Engkaulah Penentu
Kadang kami masih saja merasa
Kebenaran itu hanya punyaku
Yang lain bukan makhlukMU,
Yang lain bukan UmatMU

Dalam Doaku……
Sering kusampaikan dengan memaksa
Seolah akulah yang lebih tahu,
DariMU, Sang Mahatahu
Doaku bukan harapan
 Tapi itu keharusan
Dan ketika ada satu yang tak KAU kabulkan
Seolah hilang seluruh nikmat yang KAU limpahkan

Ampuni kami hambamu yang hina ini




Puisi Ramadhan

Ada sekuntum hari
Dimana wanginya
Mengharumi bumi sepanjang waktu
Karena saat itulah
Kemahamurahan sang Khaliq berlimpah
Menyatu pada segala inti hidup

Adalah Ramadhan….
Ia bertelaga bening
Airnya mutiara maghfiroh
Gemerciknya dzikir dan tadarrus
Tepianya doa lemah lembut,
 Lirih dan berpasrah hati

Siapa tak ingin jadi ikannya?
Mari berenang dengan kesunyian nafsu
Agar setiap sirip kita tak patah sia-sia

Ia rahasia…..
Tak sekedar lapar dahaga
Tapi sesungguhnya
Itulah hakekat cinta
Dan salah satu cara bertegur sapa
Dengan Allah sang pencipta

Karena dengan lapar dan haus
Kita bisa lebih menyadari
Bahwa kita tak berpunya
Bisa lebih memahami
Bahwa kita tak lebih dari sebutir debu

Di antara kemahaluasan-Nya
Ia sepantasnya dirindukan
Di cakrawala bertebar pengampunan
Dan segala kebaikan
Juga nuzulul qur’an dan lailatur qodar



MALAM SUCI.

Di tengah malam,
saat aku menatap langit berhias bintang,
seakan-akan malam-malam suci itu
sedang berbaris menunggu giliran
untuk bertemu denganku.




Sambil membawa nampan-nampan,
yang akan dipersembahkan pada-Nya
setiap pagi menjelang.

Akankah nampan-nampan itu
kuisi dengan sepenuh cinta.
Sanggupkah aku merajut amal mulia,
doa, ilmu, alquran, sujud,
bahagiakan fakir miskin dan
berbuat baik pada sesama,
sebagai persembahanku pada-Nya

Ataukah aku akan tega,
membiarkan malam-malam suci berlalu
sambil mencucurkan air mata
karena menahan malu
saat harus mempersembahkan
nampan-nampan kosong pada-Nya,
yang telah memberiku segalanya



Puisi Menjelang Ramadhan
Semilir angin menghembuskanku menujumu,
Ramadhan….
Kutinggalkan kenangan Sa’ban
dengan sejuta harapan dan kebimbangan
Akankah detak-detak langkahku
yang berlalu adalah kebajikan
yang kan mengantarkanku meraih kemenangan
atau
 kenistaan yang kan meleburkanku dalam pengajaban

Oh ... aku begitu takut
Hari-hariku semakin berlalu
Akhir perjalananku makin mendekat
Akankah aku berbekal di pemberhentianku?

Oh … aku semakin takut
Sebab aku takkan bisa kembali
 
Memungut makna-makna yang terabaikan
 
Segenggam harapan yang tersisa
Hanyalah kehadiranmu, Ramadhan
Sebagai tumpuan meraih magfirah
Itupun kalau aku masih punya kesempatan






Do’a

.
Ya Allah... Inilah hamba-Mu
yang meratap mengharap percikan cinta-Mu
Engkau tahu
betapa banyak nista terus memburu
dosa dan dosa dan dosa
melagukan sonata hawa nafsu
kelu lidahku untuk mengaku di hadapan-Mu
malu jiwaku untuk menatap-Mu
.
Ya Allah...
Dalam gundah penuh ragu aku menghampiri-Mu
Menatap diriku sendiri yang selalu berpaling
Sesekali dosa-dosa kusesali
Tetapi berjuta kali ku ulangi
Betapa daku harus menghadap-Mu
Sedang seluruh syaraf batinku hanyalah kisah kepalsuan
Sungguh tiada yang mendesakku, kecuali sebuah pengampunan-Mu


Rinduku di Puncak Menara Sujud

Melewati siang dalam kepenatan jiwa
Menyusuri malam dengan kesunyian hati
Gumpalan dosa mengikuti jiwa yang kering
Sesal isak meremas persendian raga

Dalam bulir-bulir waktu
Berkejaran rasa, menjelma menjadi alunan sesak
Tanpa harapan, tiada tujuan
Melangkah dalam kehampaan

Mengejar kebahagiaan semu
Bersama nyanyian tanpa makna
Tertawa lepas di atas altar maksiat
Gelak hati merintih dalam kepedihan

Nun jauh dari naluri suci
Arak memabukkan menari-nari
Tanpa cacat dalam gelas putih
Hingga memabukkan diri ini
Melebur dalam lautan dosa
Malam terasa memekakkan gendang telinga

Masa bergulir melahirkan remang-remang asa
Warna hitam mendung berganti menjadi bianglala indah
Dalam pusaran waktu cinta-Nya menyapa
Mengalir sejuk ke relung jiwa yang tandus
Jeritan tangis pilu menghampar
Menyesali ruh dan jasad yang tlah tersesat jauh
Hidung tersumbat oleh dosa-dosa masa lalu
Jiwa tertatih ingin berdiri, menggenggam erat Kasih-Nya

Ya Allah,
Dalam kehampaan jiwa
Tlah Kau tuangkan air cinta-Mu
Pada diri yang tlah berlumur dosa
Pada hati yang bersimbah kemunafikan

Ya Allah,
diri malu mengharap ampunan-Mu
Namun kuyakin Engkau teramat Penyayang
Meski hamba-hamba-Mu berserakan dosa

Ya Allah,
dalam sesal tak bertepian
Ku ingin teguh berjalan dalam keridhoan
Rinduku pada-Mu menggelora
Menggebu dalam puncak menara sujud
Genggam jiwa yang sedang meronta
Mengharap luapan dosa Engkau Ampuni
Dalam puncak menara sujud khusyuk pada-Mu
Pasrah ini kugantungkan.





1 komentar: