KUMPULAN PUISI SEDIH


Ketika Ku Teringat Mati

oleh Yenni Kurniawati pada 28 Mei 2011 jam 16:24

Ku amati raga ini, suatu ketika pasti akan kaku
Kuamati mulut ini, suatu ketika pasti akan diam.
Bertanya hati ini sudah cukupkah raga ini berbuat amal dan mengerjakan .
Seberapa banyak bibir ini berzikir dan mengucapkan kata-kata yang baik.
Teringat perbuatan-perbuatan lalaiku yang tidak terhitung.

Maksiat dan keingkaran.
Teringat ucapan-ucapan kotor dan penuh kesia-siaan.
Setiap katanya menyakiti orang lain dan zhalim.
Siapkah diriku menghadapi maut?
Jika saat ini tiba waktunya?
Ingin segera ku beramal.
Jangan sampai raga ini terlambat untuk sujud dan melaksanakan perintahnya.
Ingin segera ku berinfak dan sedekah.

Jangan sampai harta yang ku cari siang malam selama ini sia-sia.
Tak pernah dicicipi kaum fakir dan dhuafa.
Tak terpakai dalam perjuangan di jalan Allah.
Ya Allah lindungi hambaMu ini.
Bantu hamba.
Menyiapkan diri menyiapkan mati.
Karena diri ini sering lupa.
Diri ini akan mati.

Ketika Ku Teringat Mati

  
 Kematian Terindah untukmu, Saudaraku..

Saudaraku, ingatlah MATI
Sesungguhnya mati adalah janji yang ditepati
Tapi mengapa kau tak pernah peduli
Engkau lebih memilih dunia yang hina ini.

Dalam doa kau meminta khusnul Khotimah
Tapi pandanganmu akan dunia tak terarah
Kau masih mencari dunia yang belum terjamah
Sehingga lupa keinginanmu meraih Jannah.

Gelap matamu akan nasib di akhirat nanti
Ketika ditanya apa yang kau kerjakan selama ini
Nanti kau akan ditanya sendiri-sendiri
Kau pun tidak akan dapat melarikan diri
Dari panas dan teriknya matahari
Dari dosa-dosa yang kau lakukan setiap hari.

Semoga medan jihad mengantarkan kematianku
Atau saat Sujud shalat aku menghadap Rabbku
Atau saat Hari Jum’at sebagai hari terakhirku
Atau saat amalan terbaikku,
Malaikat maut melepas jasadku.

Amin…

Istana Rumah Cacing


Istana rumah cacing
Tempat semua manusia terbaring
Tak lagi terdengar suara nyaring
Suasana nan amat hening

Siapa yang dapat membantu
Tuk lepas dari belenggu itu
Tiada lagi tempat tuk mengadu
Atas diri yang terbujur kaku
Terkurung dalam liang beku

Ternampak akan dosa-dosa
Jasad menghiba dalam penyesalan
Sambil membayangkan kapankah kiamat datang
Tanpa hisaban memberatkan


Tersenyumlah, Hati yang Remuk

Teruntuk insan yang hatinya sedang diremukkan
Sapu air matamu yang mengalir deras
Redam bara emosi yang bergejolak memanas
Engkau tercipta bukan untuk menangisi zaman.

Ataupun menyesali duka lara
Usah tenggelam dalam kubangan nestapa
Jika cintamu mengalami kegagalan
Jika ta’arufmu kandas di jalan.

Tersenyumlah...
Awan hitam selalu menyimpan pelangi
Begitupun Sang Penggenggam nyawa
Dia selalu punya rahasia dan bijaksana
untuk membuat dewasa makhluk-Nya.

Cinta suci sedang menunggumu
Tetapi engkau harus sabar menantikan
Cinta itu akan menjemputmu
Di masa yang telah Dia rencanakan.

Teruntuk yang hatinya sedang diremukkan
Jangan berikan celah pada syaitan
yang membuat semangatmu terlemahkan
Perihnya duka bukanlah isyarat runtuhnya langit
Ataupun robeknya kulit bumi.

Allah menempa pribadi tangguhmu
Dalam butiran air matamu
Dalam jeritan derita batinmu
Dalam rintihan sesaknya nafasmu.

Teruntuk yang hatinya sedang diremukkan
Pasang surut laut adalah kepastian
Tawa dan tangis adalah kewajaran
Takdir-Nya menjadikan makhluk berpasangan.

Sebuah ketetapan Sang Penguasa
Jika engkau tak dapatkan pasangan di dunia
Bukan berarti Allah memberimu petaka
Tapi Dia sedang menyiapkan makhluk terindah
Yang menantimu di  Surga
Yang kan menemani jiwamu yang resah

Tersenyumlah...
Dalam kesabaran munajad panjangmu
Meski tajamnya duri mencabik-cabik lukamu
Meski remuk redam menyerang hatimu.


 Keseorang ~  iben nuriska
Masih saja basah. Sepertinya puisi tak hendak
sampai ke tidur tak berigau ke jaga yang bara.
Api masih dipadamkan hujan.
Tak ada puisi bunga.
Selalu angin bawa awan hitam
di gantungan jemuran.
Masih saja basah.

Kapan kita akan bersajak
Seperti muda yang gagah
Seperti jelita dengan pesona
Seperti cinta dan asmara
Seperti wangi dari dupa

Mungkin pergimu adalah isyarat
Takkan dewasa anak selamanya dikepit ketiak

KEPASTIAN ~  ' Gus Fet
Perpisahan adalah kepastian
Waktu berjalan, tak bisa di mundurkan
Berjalan pelan, tak bisa dimajukan

Kematian adalah keniscayaan
Tak bisa di tolak, tatkala ia datang
Tak bisa diminta, takala hidup bosan

Perpisahan...oh...kepastian
Kematian...oh...keniscayaan
Janji tuhan, pasti datang
 Hari akhir adalah janji tuhan
Tak mengerti, waktunya kapan datang
Tak tahu diterima, nikmat atau siksaan
Perpisahan adalah kepastian
Kematian adalah keniscayaan

Ingin kucoba tuk tersenyum
Mengucap selamat berbahagia
Bukan tak rela namun tak mampu
Tak lagi berharap namun masih ada
Sejumput kenangan ini,
Takkan begitu saja hilang
meski kau takkan lagi pernah datang
membawakanku seutas senyuman

indah…
juga lara…
sedih…
tapi mengerti…
Semoga detik demi detik, terus pergi
Membawakanku lagi seutas mimpi
menuju taman hati tuk kunaungi
bercerita, berbagi dan menghapus memori
asa…
juga realita
cinta…
juga duka


Kasihku………..!
Di persimpangan jalan cinta ku,
ku lepaskan dirimu berlalu bersama cintamu.
di Batas kota ini, ku iringi kepergianmu dengan hati
lelah
di iringi d
erai air mata,persembahan terakhir untumu.

kasihku……….!
Aku relah melepas dirimu pergi dari sisiku,
demi masa depanmu, demi kebahagiaan orang tuamu,dan juga….
demi dia yang mencintaimu.
walaupun kini dirimu t
elah di lain hati
bersama cintamu,

biarlah kenangan ku bawa pergi
bersama bias bayangmu
sebagai pengganti dirimu tuk melepaskan
segala kerinduan di hati ini


Malam ini ,
ku lihat bayang dirimu dalam kegelapan malam
melangkah menjauh dariku
mendekat pada angin malam dalam kegelisahan

Wajahmu pucat pasi tak seperti biasa
tubuhmu dingin bagai air yg membeku
mulutmu diam seribu bahasa

Apakah yg tlah terjadi ???

Kebisuanmu membuatku tak berdaya , terdiam
habis sudah kata-kata indah dalam bibirku
tenggelam bersama hausnya aku akan ucapanmu
ucapanmu yang slalu ku nanti-nantikan saat kehadiranmu
Bagai hati tersambar petir
saat ku tau , kau menghilang dari hadapku
dan tak pernah kembali di sini bersamaku
untuk menjalin cinta di akhir hidupmu

Aku tahu ,
tetapi mengapa ku tak pernah rela melepas kepergianmu
kepergiaanmu yg abadi
menemukan kehidupan yg baru dan abadi





Aku masih terus arungi hari
Walau sekarang, tak seelok mimpi
Segala kesombongan ini
Membawaku bagai ditelan bumi

Kurasakan kini, semua mulai mencercaku
Mereka menusuk, merajam, dan mengiris empedu
Dan satu hal yang sekarang ada dalam fikirku
Aku membutuhkanmu

Ya, namun bukan untuk membunuh sang waktu
Seperti yang kutahu di masa lalu
Sekarang, aku rasa, aku membutuhkanmu
Tuk kembali bangkitkan sang waktu
Ya, bangkitkan sang waktu

Waktu kita tertawa
Waktu kita memandang
Waktu kita tersipu
Waktu kita berangan
Dan,Waktu kita berbagi canda

Akankah sang waktu
kembali padaku?
Dan akankah dia bawa untukku
senyum indah dari bibirmu?




Di hari ini
aku pergi meninggalkanmu,
untuk mencari arah jalan hidup
cinta dan kehidupan
dengan ucapan yang terlewat dan terabaikan

sebelum hari ini
canda tawa selalu ada
mengisi ruang kelas yg kini berganti suasana
celoteh ringan menghiasi dindingnya
tenggelam kelam kala amarah guru menggema
ketika semua itu berlalu
rindu, kasih, dan sayang yg mulai tumbuh
membawa kita menjadi kenangan
yg menjadi sejarah yg tak terlupakan dalam perjalanan hidup

Tuhan….
berikan kami kesempatan untuk bertemu
untuk ucapkan maaf yg terabaikan
untuk ucapkan terima kasih yg terlewatkan
dan lindungi kami untuk selalu menjaga amanah Mu.
hingga akhirnya waktu akan berlalu







Tidak ada komentar:

Posting Komentar